Kenapa sebaiknya TNI AU Tidak Membeli Lockheed Martin F16 Viper ??

Beberapa waktu lalu TNI angkatan udara berniat memboyong jet tempur twin engine Rafale dari Dassault Aviation (Prancis) dan F-15EX. Meskipun kini pembelian JET tempur Rafale sepertinya menemui jalan buntu. Adapun masalah dana dikabarkan masih menjadi kendala dalam upaya pembelian Jet tempur asal Prancis tersebut.

Dan seperti biasanya, Lockheed Martin justru kembali mendekati Pemerintah Indonesia. Manufaktur alutsista asal Amerika tersebut kembali mencoba menawarkan F-16 Viper (Block 72) kepada Indonesia, bahkan kali ini Lockheed sudah mendapat izin dari Pemerintah AS sendiri untuk menawarkan Viper ke Indonesia. Begitulah kadang Amerika, giliran udah nawar yang lain terus dekatin, ntar giliran di “iyakan” ujung-ujungnya juga belum tentu “lancar”.

Tapi kali ini, admin kotanopan.com justru akan membahas Kenapa sebaiknya TNI AU Tidak Membeli Lockheed Martin F16 Viper dari Produsen amera serikat tersebut. Admin bukan dendaam atau kurang yakin dengan F16 Viper milik uncle SAM. Hanya saja ini adalah pendapayt pribadi menurut admin kotanopan sendiri. Dimana ada 4 point utama, kalau kurang silahkan pembaca tambah di kolom komentar.
baca juga: Informasi Jadwal Pendaftaran Prakerja Gelombang 17 kuartal II 2021

Pesawat dasault. SUmber :dassault-aviation.com

Pertama adalah netralitas dan keseimbangan. Tidak mungkin kebutuhan pesawat temput milik TNI AU hanya didominasi oleh salah satu produk dari blok barat atau blok timur saja. Karena ini akan sangat bereseko dan akan sangat merugikan Negara bila suatu saat nanti ternyata terjadi pergeseran arah peta kepentingan politik, persaingan antar produsen alutsista dan tentu saja tak lain dan tidak bukan adalah adanya ancaman embargo. Seperti  yang pernah pernah kita alami sebelumnya. Kita perlu adanya keseimbangan alutsista barat dan timur serta dari negara yang netral agar  nantinya Indonesia tidak  terjebak dalam situasi sulit jika terjadi masalah dengan salah satu blok. Dimana ini adalah rresiko pahit dan harga mahal yang harus kita pahami dan hadapi jikalau kita ingin dan akan tetap menganut prinsip negara non blok yang netral.



Kedua, indikator pengembangan dan kebutuhan operasional di masa mendatang. Dimana USAF ternyata lebih memilih mengembangkan F15 E Strike Eagle menjadi F15 EX atau lebih dikenal dengan F15 Eagle II di lingkungan USAF daripada F16 Viper karena kebutuhan pesawat transisi sekaligus untuk memenuhi kebutuhan tandem pesawat tempur F35 Lighting II akibat F22 Raptor yang semula akan ditandemkan dengan F35 Lighting II dalam program pengembangan pesawat tempur generasi ke 5 sudah discontinue, imbas daripada performanya tak kunjung juga membaik sesuai dengan keinginan dan kebutuhan pesawat tempur masa depan USAF sendiri.
Baca juga:Detasemen Deteksi Paspampres Teliti Setia Waspada

Jika toh TNI AU ingin mengunakan pesawat tempur buatan Amerika yang memiliki waktu operasional panjang serta ketersediaan paket upgrade yang lebih maju secara teknologi, yang bisa jadi justru malah bisa mendekati dengan standar pesawat tempur generasi ke 5 : Boeing F15 EX adalah pesawat yang lebih tepat untuk di beli oleh TNI AU daripada F16 Viper yang mereka tawarkan.

Alasan ketiga, tolak ukur nilai strategis itu sendiri. USAF bahkan tidak menggunakan F16 Viper dan hanya memilih untuk mengupgrade sebagian Pesawat tempur F16 C/D nya menjadi block 70 saja, tentu dengan penyesuaian untuk memperpanjang usia operasional dan memenuhi standar kesiapan tempur armada pesawat tempurnya akibat molornya jadwal produksinya F35 Lighting II dan masalah integrasi sistemnya. Maka Jika produk alutsista Amerika bahkan tidak digunakan untuk angkatan perangnya sendiri. Maka menurut saya pribadi, Itu tidak menjanjikan “masa depan yang Bagus” nantinya.
baca Juga :Cara Download Video Tiktok Terbaru 2021

Ke empat atau terakhir, program pengadaan pesawat tempur generasi 4++ Untuk TNI AU sendiri pada dasarnya sudah berjalan. Dari yang admin kotanopan dengar Informasinya, hingga saat ini Kemenhan RI dan Dassault masih dalam proses menyelesaikan perjanjian pengadaan Dassault Rafale yang juga merupakan pesawat tempur generasi ke 4 ++ dengan pembelian adalah minimal 1 SkU atau 16 unit lengkap termasuk dengan senjata, amunisi, suku cadang serta paket pelatihan pilot dan teknisi TNI AU.



Proses pengadaan alutsista yang memiliki nilai strategis tinggi memang rumit, tidak mudah dan bahkan perlu waktu cukup lama, karena ini kerjasama jangka panjang dan termasuk menyangkut keamanan negara kita. Pada umumnya negara pengguna Dassault Rafale memerlukan waktu hingga 1-2 tahun hanya untuk menyelesaikan proses perjanjiannya saja dan masih harus sabar menunggu 1-4 tahun sampai batch pertama Pesawat Rafale datang.
Itulah ulasan Kenapa sebaiknya TNI AU Tidak Membeli Lockheed Martin F16 Viper, menurut admin kotanopan. Mohon kalau salah ya di bilang salahnya dimana, agar di perbaiki. Terimakasih

Author: Mr. wics

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

5 × four =